Semut yang bersedih dan Semut yang bersyukur

  Dihutan yang sepi, terlihat seekor semut sedang melamun. dalam hati dia sedang bersedih karna orang yang dicintai meninggalkan dirinya untuk selamanya. Dalam kesedihan yang sangat dalam dia berpikir dan bertanya dalam hatinya,mengapa ada kehidupan berganti kematian ?

Hidup memang sangat membingungkan dan mengapa ada hidup yang tercipta jika kematian akan menyongsong. Pada saat kesedihan yang memunjak, datang seekor semut lagi dan menghampiri semut yang sedang bersedih dan bertanya padanya.Sahabat ku yang baik, mengapa engkau bersedih berlarut-larut (tanya semut yang baru datang) ?Anda tidak mengerti, apa yang sedang aku alami. Tahukah kamu, hal yang paling menyakitkan hati dan membuat semangat hancur apabila ditinggalkan orang yang kita cintai, dan sekarang aku sedang mengalami hal itu (jawab semut yang sedang sedih, dengan meneteskan air mata dipipinya). Mendengar jawab itu, semut yang ingin mencoba menghibur tidak dapat berkata -kata lagi. Lalu dia pergi dari tempat itu, meninggalkan sahabatnya yang sedang bersedih.
Kesedihan yang dialami semut yang sedang bersedih itu semakin menjadi, dia merasa tidak ada semut lain yang mengerti perasaan yang sedang dia alami. Sungguh kasihan semut itu, seakan-akan tidak ada lagi cahaya dalam hidupnya. Semua hampa, hidup bagaikan ada namun tak ada. Dalam kesedihan yang memunjak, datang lagi seekor
semut penggelu (dia menghampiri semut yang sedang bersedih tersebut). Sahabat ku yang baik, aku tahu kamu sedang mengalami hal yang paling berat dalam hidup mu sekarang ini (penuh dengan semangat dia mengucapkan hal itu). Dulu akupun pernah mengalami hal yang kamu alami ( kata semut penggelu). Bagaimana perasaan kamu pada saat itu, dan apa yang kamu lakukan ( tanya semut sedih penuh keingintahuan). Aku juga merasa hidup ini tidak adil bagi ku, mengapa orang yang kita kasihi harus meninggalkan kita. Sang pencipta itu tidak adil, pencipta itu egois,
pencipta itu tidak pernah perduli (penuh emosi semut itu mengatakan hal tersebut). Sekarang aku hanya menjalani hidup ini apa yang aku suka dan apa yang aku inginkan, aku tidak perduli dengan itu dan ini. Buruk atau baik, bagi semua sama (kata semut penggelu penuh kesombongan) dan kita dapat melakukan apapun yang ingin kita lakukan, hidup kita adalah milik kita (lanjutnya). Sekarang kamu jangan bersedih lagi, tapi jalani aja apa yang kamu anggap yang kamu suka, bukankah hidup kita milik kita (kata semut penggelu memberikan nasehat, lalu meninggalkan semut yang sedang bersedih itu).
Setelah mendengar nasehat atau perkataan dari si semut penggelu, semut yang bersedih berpikir kembali. Apa yang dikatakan dia (semut penggelu) benar juga ya, mengapa aku harus bersedih, bukankan hidup ini milik kita sendiri, dan kita dapat melakukan apapun yang kita inginkan, lagi pula hidup aku kan milik aku.
Satu hari kemudian, semut sedih melakukan apapun yang dia inginkan didesanya. Semua yang dia lakukan tidak sesuai dengan apa yang semut kampung (kan ngak lucu semut kampung ditulis orang kampung, emangnya semut itu orang) kenal dulu. Dia berbeda dengan dirinya, dulu semut sedih begitu sopan dan rajin, berubah menjadi egois dan pemabuk, pengganggu. Semua semut yang tinggal satu kampung bisa memakluminya, karna semua semut kampung mengerti kesedihan yang sedang dialaminya (semut sedih).
Sehari berlalu, seminggu berlalu, sebulan berlalu, dan setahun berlalu sifat semut sedih tidak berubah. Hal ini membuat semut satu kampung, tidak menyukainya lagi dan tidak bisa menerima semua tingkah laku yang dilakukan semut sedih yang sudah sangat mengganggu ketertiban kampung. Teguran dari teman-temannya tidak diperdulikan bahkan teguran dari kepala kampungpun tidak diperdulikan. Dia malah semakin menjadi-jadi, hal ini membuat satu kampung membencinya dan keputusan yang paling menyakitkan adalah dia (semut sedih) diusir dari kampung halamannya.
Dalam perjalanannya (semut sedih), dia tidak tahu mau kemana, akhirnya dia tinggal didalam hutan seorang diri. Dia membangun gubuk sendiri dan melakukan semuanya dengan sendiri. Kini dia tinggal seorang diri jauh dari keramaian dan teman-teman. Lingkungan hutan sangatlah berbahaya, dimana banyak sekali mangsa yang ingin memakannya. Ketakutan itulah yang membuat semut sedih semakin hari semakin kurus dan semakin tua kelihatannya.
Pada suatu hari seekor semut yang sekampung dengan semut sedih, ingin mencari kayu bakar untuk musim dingin nanti, jalan yang dia lalui melewati semut sedih tinggal. Tanpa disenggaja dia melihat semut sedih sedang duduk didepan gubuknya. Lalu dia menghampiri semut sedih, dan dia sangat terkejut melihat kondisi semut sedih. dan bertanya pada semut sedih.
Apa yang terjadi pada kamu (semut sedih), badan mu kurus kering dan kondisi kesehatan mu memburuk ? Dengan suara tersendak-sendak, semut sedih menjawab : Ini semua salah aku, jangan perdulikan aku. Ini semua karna kelakuan ku yang membuat aku begitu dan aku layak menerima semua ini. Biarlah aku menyusul orang yang aku cintai, hidup ini bagi ku tidak berarti lagi (dengan air mata yang terus menetes dipipinya dan penuh penyesalan). Jangan berkata begitu (semut itu menjawab dengan perasaan penuh kasih), mari ikut aku kembali kekampung kita lagi dan aku
akan berbicara sama kepala desa dan teman-teman agar mau menerima kamu lagi. Aku malu bertemu dengan teman-teman lagi, aku telah sangat mengecewakan mereka (jawab semut sedih dengan wajah yang lesu) dan aku tidak sanggup lagi bertemu mereka. Jangan lagi mengingat masalah lalu yang telah berlalu, tapi kita mulai lagi yang baru.
Dulu akupun pernah mengalami hal yang kamu alami (kata semut itu), tapi aku belajar untuk selalu bersyukur pada sang pencipta apa yang telah terjadi pada diri ku, semua itu ada hikmatnya. Aku belajar untuk mengasihi, seperti aku mengasihi orang yang aku cintai. dan jika orang yang aku cintai meninggalkan aku, cinta ku tak kan hilang dan akan aku bagikan juga bagi orang lain, seperti aku mengasihi pada orang yang aku cintai. Dan aku selalu bersyukur pada
apa yang aku alami dalam hidup ini, karna hidup untuk bersyukur bukan untuk menggelu dan bersedih yang berlarut-larut Sekarang kamu jangan banyak berpikir lagi, ikut aku kembali ke kampung kita (kata semut itu, dengan menarik tangan semut sedih). Dengan perasaan yang takut dan menyesal, akhirnya semut sedih mengikuti semut yang selalu bersyukur ke kampung halaman mereka lagi. Akhirnya sampailah mereka kekampung halamannya, ternyata semua semut kampung menyambut semut sedih dengan suka cita dan penuh kasih. Mereka percaya bahwa semut sedih layak dikasih kesempatan untuk mencoba hidup bahagia lagi dikampung kelahirannya.
Tahun terus berlalu, semut sedih hidup penuh kebahagian dan bersyukur selalu atas apa yang dialami dan dia terima. Kini semut sedit bukan lagi menjadi semut sedih, tapi menjadi semut yang penuh sukacita dan bersyukur atas apa yang diterima dan dia menjalani hidup penuh dengan kasih dan perduli satu sama lainnya.